Peninjauan Program Mekaar Binaan Permodalan Nasional Mandiri (PNM), 6 Desember 2019, di Alun-alun Kota Cilegon, Provinsi Banten

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 Desember 2019
Kategori: Dialog
Dibaca: 124 Kali

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja. Hadir pada siang hari ini Bapak Menteri BUMN, Pak Erick Tohir. Kalau ada yang belum kenal, Pak Menteri silakan berdiri Pak. Masih sangat muda. Kemudian dr. Terawan, Pak Menteri Kesehatan. Hadir juga Pak Menteri UKM, Pak Teten Masduki. Ini nanti juga bertanggungjawab menaikkan kelas Ibu-ibu untuk naik lagi, urusannya Pak Teten nanti. Kemudian Bapak Kepala Staf Presiden Jenderal Moeldoko;
Yang saya hormati Bapak Gubernur Provinsi Banten dan Ibu Wali yang hadir bersama kita;
Serta yang sehari-hari ngurusin Ibu-ibu semuanya Pak Dirut PMN Mekaar, Pak Arief, beserta seluruh jajaran Direksi,
Ibu-ibu yang saya hormati.

Ibu-ibu ini adalah masuk ke dalam 5,9 juta nasabah Mekaar yang ada di seluruh tanah air Indonesia. Ya, jadi saya ulang, nasabah Mekaar sudah jumlahnya 5,9 juta jumlahnya.

Apa yang ingin saya katakan? Ibu-ibu adalah orang-orang yang dipercaya. Hati-hati. Karena mendapatkan bantuan pinjaman tanpa agunan. Ada yang diminta agunan, tunjuk jari? Tunjuk jari, ada yang diminta agunan? Kalau ada silakan maju saya beri sepeda. Enggak ada?

Hadirin
Enggak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nah, enggak ada. Artinya apa? Kenapa Ibu ada yang diberi Rp2 juta, ada yang diberi  Rp8 juta, ada yang diberi Rp6 juta? Karena Ibu-ibu dipercaya. Kalau diberi Rp2 juta bisa dipercaya, tahun depan naik level diberi Rp4 juta. Kalau Rp4 juta (bisa) dipercaya, disiplin, diberi Rp8 juta atau Rp6 juta. Naik terus. Sekali lagi, artinya Ibu-ibu dipercaya.

Saya ingat dulu waktu saya muda, saya punya usaha kecil-kecilan. Saya mau pinjam Rp10 juta saja saya harus agunannya lebih dari itu. Padahal saya enggak punya agunan, tanah enggak punya, sertifikat enggak punya. Apa yang saya miliki? Enggak ada. Oleh sebab itu, saya pinjam ke sertifikatnya orang tua saya, untuk pinjam di bank. Lha ini Ibu-ibu dipercaya. Saya titip, kalau sudah dipercaya itu justru lebih hati-hati. Setuju?

Hadirin
Setuju.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Hati-hati. Jangan sampai kita dipercaya, kita belak-belok. Hati-hati. Kalau orang sudah tidak dipercaya, untuk mengembalikan kepercayaan itu sulit sekali. Nggih? Betul?

Hadirin
Betul.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sehingga betul-betul, yang pertama disiplin dalam mengangsur. Setuju?

Hadirin
Setuju.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Misalnya, ngangsurnya hari Senin ya, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu itu sudah mulai menyisihkan untuk ditabung sehingga ininya terus bergulir. Disiplin. Kalau bilang Senin, Senin juga harus ada. Ini penting sekali. Kalau harus dikumpulkan Jumat, ya Jumat dikumpulkan ada.

Jangan sampai, misalnya dapat Rp2 juta, dapat Rp2 juta, pulang tengok-tengok ada mal. Nah, Rp2 juta di sini, belok ke mal, treeet, lihat kok ada baju bagus, nah ini sudah namanya mulai tidak disiplin. Coba-coba, waduh kok tambah cantik, sudah, beli. Nah Rp100 ribu beli, treeet. Keluar dari tempat itu, nyoba baju, jalan mau ke kasir, nengok lagi, waduh kok ada ‘ini’. Ada lipstik bagus ini, tambah lagi. Ditawari sama yang jual, “Bu, ada ini Bu yang bagus, Bu.” Tambah lagi. Akhirnya Rp200 ribu keluar.

Apa yang terjadi kalau sudah seperti itu? Itu akan memperberat nanti dalam kita mengangsur, percaya saya. Oleh sebab itu, kalau dapat Rp2 juta gunakan seluruhnya untuk modal usaha, untuk modal kerja. Setuju?

Hadirin
Setuju.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau dapat Rp4 juta, gunakan seluruhnya untuk modal usaha dan modal kerja. Setuju?

Hadirin
Setuju.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau dapat keuntungan, sehari untung Rp80.000, untung Rp100.000, yang dipakai untuk mengangsur misalnya Rp50.000, ditabung Rp50.000. Berarti sisanya juga disisihkan, ditabung, sendiri, disendirikan ini. Nabung itu penting karena kita punya anak-anak kita yang perlu sekolah. Suami kerja, iya, tapi kalau ada tambahan dari kita, dari Ibu-ibu itu akan lebih memperkuat ketahanan ekonomi keluarga kita.

Ini yang dapat paling banyak tunjuk jari. Dapat berapa? Berapa Bu? Rp4juta. Enggak ada yang Rp8 juta? Rp8 juta ada? Rp8 (juta)? Yang Rp8 (juta) siapa? Rp8 juta? Rp8 juta, Rp8 juta? Rp 8juta? Rp8 juta maju satu. Ya, Ibu, Ibu. Suruh maju kok enggak mau? Ini lah… Kok berdua? Bersatu aja. Wong kita hanya minta satu kok mau berdua? Enggak diapa-apain, Bu. Sudah, enggak saya apa-apain, percaya.

Ada yang dapat Rp2 juta? Banyak. Mana yang Rp2 juta? Rp2 juta, Rp2 juta. Mana Ibu-ibu tadi yang Rp2 juta? Ya, coba maju, Rp2 juta yang pakai topi. Maju.

Ada yang dapat Rp4 juta? Oh, yang banyak Rp4 juta. Rp4 juta, Rp4 juta, Rp4 juta. Rp4 juta siapa lagi? Rp4 juta. Coba Ibu, Rp4 juta. Ya yang merah jambu maju.Itu tasnya kok berat sekali itu isinya duit? Bukan? Oh, kok kelihatannya tasnya kok ‘di-gini’ terus sih? Apa ada isinya uang.

Ya, silakan Bu, dikenalkan namanya.

Sandaria
Assalamu’alaikum….

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah.

Sandaria
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wa’alaikumsalam.

Sandaria
Nama saya Ibu Sandaria.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Sandaria?  Sandaria. Panggilannya Bu?

Sandaria
Sanda.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Sanda.

Sandaria
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oke. Bu Sandaria manggilnya Bu Sanda.

Sandaria
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Sanda dapat Rp8 juta, dipakai untuk usaha apa?

Sandaria
Usaha jual nasi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jual nasi. Nasi apa?

Sandaria
Nasi…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Hah?

Sandaria
Nasi warteg (warung tegal).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nasi warteg. Terus, plus?

Sandaria
Plus warung kopi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Warung kopi. Rp8 juta untuk warteg sama warung kopi. Sehari bisa jual berapa rupiah? Atau untungnya berapa? Atau omsetnya berapa? Untungnya berapa? Untungnya aja lah.

Sandaria
Keuntungannya aja?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya, keuntungannya.

Sandaria
Sehari?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya.

Sandaria
Kurang lebih Rp500 (ribu).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Wah, banyak sekali. Rp500 (ribu). Rp500 (ribu) kalau kali tiga puluh, (jadi) Rp15 juta. Satu bulan dilunasi, rampung.

Sandaria
Cuma keuntungannya kan (dibagi) ke mana-mana.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya bagus, alhamdulillah. Tapi sekali lagi, jangan dipakai untuk aneh-aneh, ditabung, ditabung, ditabung. Nanti kalau tabungan cukup, lihat, ada kios murah ndak ini, bisa dibeli atau bisa dicicil lewat keuntungan itu. Beri uang muka, dicicil, sehingga mempunyai tempat usaha tetap, entah itu di pasar, entah itu di dekat mal. Nah tapi harus punya mimpi itu.  Ibu-ibu harus punya mimpi seperti itu. Untungnya gede banget, Rp500 (ribu).

Sandaria
Belum dibagi ke mana-mana, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Belum dibagi ke mana-mana, maksudnya?

Sandaria
Ya, buat anak sekolah, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Buat anak sekolah. Anak sekolah bapaknya, urusan bapaknya.

Sandaria
Kan usahanya bareng.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh usahanya bareng bapaknya. Oke, oke. Tadi masih dikurangi untuk anak-anak sekolah. Tapi ya masih, kalau Rp500 (ribu)…

Sandaria
Kuliah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh ada anak kuliah. Ya tapi kalau Rp15 juta masih sisa lah. Saya bisa ngitung berapa, berapa, berapa, bisa ngitung.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus Ibu pesan apa sama yang lain, Ibu-ibu yang lain? Mau pesan apa, silakan. Pesan apa ke Ibu-ibu? Pesan apa?

Sandaria
Apa?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya apa, terserah. “Bu, kalau pegang uang hati-hati,” itu pesan. Pesannya apa?

Sandaria
Apa ya?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apa? Ibu kan pengalaman tadi. Jualan bisa Rp500 ribu setiap hari keuntungan itu bagus. Apa pesannya? Enggak bisa pesan? Kalau mencari keuntungan pintar, disuruh pesan aja enggak bisa. Ya sudah, oke.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Silakan dikenalkan Bu, nama.

Herlia
Nama saya Ibu Herlia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ibu Melia. Panggilannya Bu?

Herlia
Ibu Her.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu?

Herlia
Ibu Her. Ibu Her.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ibu Hen? Namanya, Bu?

Herlia
Herlia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Herlia? Bu Herlia?

Herlia
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Panggilannya Bu?

Herlia
Her.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Her. Bu Her, ya. Bu Lia atau Bu Herlia panggilannya Bu Her. Oke, nggih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dapat berapa Bu tadi?

Herlia
Rp2 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bantuan pinjaman Rp2juta, dipakai untuk apa Bu?

Herlia
Untuk usaha jual parfum, jual baju.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jual?

Herlia
Parfum.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jual parfum.

Herlia
Jual baju.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jual baju. Terus?

Herlia
Jual ya untuk kebutuhan ibu-ibu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Untuk ibu-ibu. Ya, keuntungan berapa itu sehari kira-kira? Apa seminggu atau sebulan berapa?

Herlia
Ya keuntungan sebulan kalau saya perhitungkan per minggunya ya dapat Rp100 (ribu), dapat Rp200 (ribu), enggak tentu lho, Pak. Kan beda-beda harga.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enggak, totalannya berapa?

Herlia
Totalannya?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Totalan…

Herlia
Satu bulan.?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ho oh, bisa untung berapa itu?

Herlia
Satu bulan saya bisa dapat keuntungan sekitar Rp600 (ribu).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp600 (ribu). Oh, ya.

Herlia
Kan masih omset kecil.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya. Ngerti. Memang kita ini kecil semua. Sehingga kita ikut Mekaar ini kita punya mimpi bersama agar bisa naik kelas, menjadi yang tengah, menjadi yang besar. Jangan dipikir saya enggak mengalami kayak Ibu-ibu. Saya ngalami, saya ngalami. Jadi jangan ada yang berpikir  bahwa misalnya anak-anak Ibu-ibu nanti tidak ada yang jadi menteri. Bisa jadi menteri, bisa jadi menteri, bisa jadi presiden. Kenapa tidak? Bisa tapi anak-anak ini harus disekolahkan, harus sekolah, harus pintar. Itu tugasnya Ibu-ibu untuk memberikan pendidikan pada anak-anak.

Oke, untung Rp600 ribu per bulan. Dipakai nyicil berapa itu seminggu? Seminggu nyicilnya berapa? Ngangsurnya?

Herlia
Seminggu angsurannya Rp90 (ribu).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Seminggu angsurannya Rp90 (ribu), berarti kali empat?

Herlia
Rp360 (ribu).

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp360 (ribu), berarti masih sisa. Oke, berarti sehat. Ini yang namanya bisnisnya sehat. Nyicilnya Rp360 (ribu) untungnya Rp600 (ribu), berarti sehat. Kalau nyicilnya Rp360 ribu ya kan, keuntungannya Rp100 ribu, itu namanya tekor. Hati-hati. Hati-hati. Ya, yang namanya usaha itu, di bisnis itu bisa untung bisa rugi. Buat agar ini semuanya bisa untung. Itu. Jadi jualnya ke mana? Tetangga atau ke kampung atau di pasar?

Herlia
Ke tetangga.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ke tetangga.

Herlia
Ke saudara.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ke saudara.

Herlia
Yang agak jauh gitu, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Yang agak jauh.

Herlia
Ya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus?

Herlia
Terus, tapi kan enggak cash bayarnya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bayarnya enggak cash.

Herlia
Enggak, sih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enggak apa-apa. Wong masih untung.

Herlia
Kan promosi, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Yang penting untung. Iya. Yang penting untung.

Herlia
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jualan itu enggak apa-apa, asal untung dan asal bisa nagih.

Herlia
Bisa.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jangan jualan sudah bajunya abis, enggak ada yang bayar. Itu yang bahaya.

Herlia
Bayar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bayar.

Herlia
Semua.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bayar semua. Bagus. Terus kalau enggak bayar?

Herlia
Saya bujuk biar bayar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya bujuk?

Herlia
Biar bayar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Biar bayar. Bagus, ini pintar ini. Ini jawaban bagus. Oke, ganti Ibu. Kenalkan nama.

Anija
Perkenalkan nama saya Ibu Anija.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu?

Anija
Bu Anija.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ibu Anida. Panggilannya Bu?

Anija
Anija.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ha?

Anija
Bu Anija.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Anida, panggilannya Bu?

Anija
Anija.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)

Bu Anija juga. Oke. Saya kira Bu Ani. Bu Anija, panggilannya Bu Ani atau Bu Ija, Bu Anija. Ya, oke. Bu Anija dapat bantuan pinjaman berapa?

Anija
Rp4 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp4 juta. Dipakai untuk apa?

Anija
Untuk jualan kerupuk miskin. Jualan kerupuk miskin.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jualan kerupuk miskin? Aduh, gimana sih namanya kerupuk miskin? Barangnya kayak apa sih? Dibawa ndak?

Anija
Dibawa.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh. Saya pikir ini tadi dipakai untuk nyimpan uang, ternyata kerupuk miskin. Ini…

Anija
Dititip ke warung-warung. Jualan di sekolah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini dititipi ke warung-warung, jualan di sekolahan. Ini kerupuk dicampur apa sih? Yang cokelat-cokelat ini apa ini?

Anija
Bawang goreng.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bawang goreng?

Anija
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya. Ini dijual berapa?

Anija
Rp1.000.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp1.000? Mahal banget, Bu. Rp1.000?

Anija
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tapi laku ya?

Anija
Laku, alhamdulillah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Laku.

Anija
Banyak yang mesen.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Banyak yang mesen? Di tasnya masih ada berapa itu? Hanya tiga ini?

Anija
Masih satu, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ada masih satu? Sini. Ampun-ampun. Ini namanya kerupuk miskin. Oke, tapi bisa menyejahterakan Ibu Anija. Ini saya beli. Ini, (saya) beli. Sudah. Sekarang, kalau satu gini Rp1.000, untungnya berapa?

Anija
Untungnya…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Satu biji untungnya berapa?

Anija
Ya kan membungkusnya kan sekilo.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya. Terus?

Anija
Sekilo kan, yang sekilo kan kalau ngejual enggak dibawangin Rp25.000, kalau dibawangin Rp40.000. Terus dibungkus jadi Rp60 (ribu) yang sekilo itu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Berarti dapatnya Rp20 (ribu)?

Anija
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Benar ya, dapatnya Rp20 (ribu)? Setiap Rp60 (ribu) dapatnya Rp20 (ribu) kan berarti?

Anija
Iya.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
Iya. Oh, ya gede juga berarti untungnya. Untungnya tiga puluh persen, bagus.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ibu tadi dapat bantuan pinjaman berapa?

Anija
Rp4 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp4 juta. Nyicilnya setiap minggu berapa?

Anija
Rp100.000.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp100.000. Oh, ya kecillah, bisa. Bisa nyicil disiplin Bu, ya?

Anija
Iya, alhamdulillah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bisa, ya alhamdulillah bagus. Terus keuntungannya sisanya untuk apa, Ibu?

Anija
Ya untuk ditabung.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Untuk ditabung, oke bagus. Terus nanti kalau ditabung, sudah banyak untuk apa?

Anija
Ya untuk modal lagi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Untuk modal lagi, bagus ini. Ya, kerupuk?

Anija
Miskin.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya oke. bawa. Saya pakai untuk lauk nanti malam. Nih. Sudah. Ibu mau pesan apa ke Ibu-ibu yang lain, mau pesan apa silakan.

Anija
Bu, apa, mau ikut jualan kerupuk miskin? Datang aja ke tempat saya ya di dekat Ramayana.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oke, Ibu-ibu yang mau jualan kerupuk miskin datang sajaa ke Ibu Anija.

Anija
Iya. Sudah disediain.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Itu aja pesannya?

Anija
Iya, sudah itu aja.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Itu bukan pesan ini, bukan ngajak. Itu namanya marketing itu, pemasaran itu namanya. Sudah, ini sepedanya ambil. Iya, terima kasih Bu, silakan ini diambil sepedanya satu-satu.

Ini, ini jangan dijual ya. Ini kalau dijual mahal sekali. Benar. Ini bukan sepeda biasa karena itu, itu di sininya ada capnya itu ‘Hadiah Presiden Jokowi’, yang mahal itu. Sudah. Diambil, diambil satu-satu. Diambil, silakan. Enggak mau? Ya, sama-sama. Terima kasih. Iya, sudah. Sudah. Iya, sama-sama.

Oh, ini masih diberi ini lagi. Sebentar, Bu. Diberi foto lagi nih. Sudah difoto. Ini Ibu dulu, ini Ibu nih, ini sini. Ini, ini dulu, Ibu. Ini, Ibu. Sudah. Sudah dapat foto, dapat sepeda. Silakan diambil, sudah diambil. Sama-sama. Ya, sama-sama.

Tadi disuruh maju aja enggak mau Ibu tadi. Dapat sepeda kan. Sudah silakan diambil. Bu, Ibu Anija, ini nanti bisa untuk muter promosi kerupuk.

Ya. Saya rasa dari pinjaman itu, kembali lagi, pinjaman itu harus menetas dan menjadi besar, besar, besar. Kalau ibu-ibu nanti sudah mentok di PNM Mekaar mentok, ini paling banyak berapa sih, Pak nanti? Kalau mentok sudah di Rp10 juta, mentok, sudah enggak bisa nambah lagi, Ibu akan dipindah nanti ke BRI. Nih diarahkan ke BRI, trrett, sehingga bisa naik ke Rp25 (juta), ke Rp50 (juta), sampai ke Rp500 juta. Enggak apa-apa, asal bisa mengelola.

Uang berapapun asal bisa mengelola itu enggak apa-apa. Artinya Ibu kalau sudah naik kelas, naik kelas itu artinya apa?  Ibu-ibu bisa mengelola uang, Ibu bisa mengelola usaha, itu artinya. Kalau Rp2 juta saja enggak bisa mengelola ya jangan pengin naik level, jangan pengin naik kelas ke Rp4 juta, bahaya. Bisa dimulai dari kecil, manajemen keuangannya seperti apa, manajemen memasarkan barang-barang produk-produk Ibu-ibu itu seperti apa.

Ibu-ibu harus kerja keras. Kita ini harus kerja keras. Dulu orang tua saya sangat miskin juga bisa menyekolahkan anak karena kerja keras. Jualan bambu, jualan kayu dari betul-betul di bawah. Enggak bisa kita ini, Ibu-ibu enggak bisa naik kelas kalau tanpa kerja keras, enggak bisa. Ya hidup itu harus kerja keras.

Saya ingat betul orang tua saya. Bangun subuh, Bapak saya pergi untuk jadi sopir, Ibu saya pergi untuk jualan bambu dan kayu. Itu kerja keras. Nanti, malam baru datang. Ya seperti itu, memang harus seperti itu. Enggak bisa kita, apalagi diberi kesempatan oleh PNM Mekaar, Ibu diberi kepercayaan bantuan pinjaman tanpa agunan. Itu sangat sulit sekali.

Sama nanti dibimbing dari Kementerian UMKM. Tadi saya juga minta ke Staf Khusus Presiden untuk nanti membimbing kita bagaimana memperbaiki kemasan, memberikan nama pada produk-produk yang kita jual. Misalnya, kayak tadi Ibu Anija, namanya kerupuk miskin misalnya diganti kerupuk ‘kaya’ gitu. Semangat gitu loh. Jualan kerupuk miskin. Ini cara memberikan nama itu harus… Ini penting.

Kemudian packing-nya, packaging-nya, kemasannya enggak kayak gitu tadi, biar kelihatan higienis, kelihatan sehat. Orang yang beli siapa pun mau beli barang itu karena kelihatan bersih, kelihatan sehat, dimakan enak betul. Ini nanti yang akan satu per satu akan kita berikan kawalannya. Agar sekali lagi, Ibu-ibu semuanya bisa naik kelas, selain memang didampingi oleh AO dari Mekaar.

Saya rasa itu yang bisa saya  sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Ada yang ingin bertanya? Ada yang ingin bertanya? Enggak ada? Saya tutup… Ada? Tanya apa? Boleh tanya, silakan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kok mau cerita. Tanya, kok cerita. Sudah, sini maju.

Partini
Terima kasih. Pak saya usaha. Eh, nama saya Partini.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bu Partini.

Partini
Dari Jawa.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya, terus?

Partini
Saya ke sini tahun 2006 akhir.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
2006, terus?

Partini
Ya. Awal saya jadi pembantu di komplek.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jadi pembantu di komplek. Terus?

Partini
Iya, terus jadi tukang pijit.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus jadi tukang pijit. Terus?

Partini
Iya. Alhamdulillah saya ikut Mekaar itu sudah tiga tahun.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah tiga tahun ikut Mekaar.

Partini
Iya. Kemarin terakhir dapat Rp4 juta.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dapat Rp4 juta, terus untuk apa itu?

Partini
Saya cita-cita, sekarang kan ngurutnya keliling.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ngurut keliling?

Partini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lha ngurut kenapa butuh Rp4 juta?

Partini
Enggak. Saya pengin punya tempat Pak, kan saya enggak muda terus.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, oke, benar. Benar. Terus?

Partini
Iya. Kemarin saya sudah DP ruko.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ruko. Terus?

Partini

Iya. Insyaallah penginnya mau bulan depan mau…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jualan?

Partini
Enggak, Pak. Mau nempat ruko itu jualan pulsa sama pijitnya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jualan pulsa sama pijit?

Partini
Sama pijit.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, gabung? Jualan pulsa dan jual pijit. Ya, oke, oke. Terus?

Partini
Iya. Terus, alhamdulillah anak saya sudah selesai kuliah dan masuk CPNS.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya, terus? Ya, bagus.

Partini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Masih tes ya?

Partini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya. Terus?

Partini
Saya pengin ngajak ibu-ibu juga mencontoh saya biar anaknya maju, biar Indonesia juga maju punya anak-anak pintar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya. Iya. Iya. Iya. Terus?

Partini
Iya. Saya tukang pijat, alhamdulillah anak saya guru agama.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Guru agama. Terus?

Partini
Di Tasik. Alhamdulillah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Di Tasik?

Partini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus?

Partini
Mudah-mudahan saya dapat modal lagi Pak buat buka ruko itu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lho kalau Ibu ngangsurnya disiplin, nyicilnya disiplin enggak usah omong ke saya pasti diberi sama Mekaar.

Partini
Alhamdulillah. Sudah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah?

Partini
Iya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya, sudah. Sini, diberi sepeda juga, sudah.

Partini
Alhamdulillah. Aamiin ya rabbal’alamin.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jangan ada yang maju lagi. Sudah, setop. Sudah, diambil.

Partini
Mana fotonya Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sudah dapat sepeda masih minta foto. Sudah, sudah, sudah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nah, ya. Sudah. Sepedanya diambil, sudah.

Saya rasa itu Ibu-ibu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya ingin memantau terus bagaimana Mekaar ini bisa berkembang, Ibu-ibu bisa naik kelas, dan kita harapkan keluarga kita semuanya sejahtera, anak-anak kita bisa sekolah, berpendidikan tinggi, dan menaikkan derajat kita sebagai orang tua.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dialog Terbaru