Puncak HPN 2017, Presiden Jokowi: Enggak Mungkin Saya Panggil Ketua PWI “No”, dan Mengusir

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 Februari 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 36.205 Kali
Presiden Jokowi memberikan ncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2017, di Ambon, Maluku, Kamis (9/2) pagi.

Presiden Jokowi memberikan sambutan pada Puncak peringatan Hari Pers Nasional 2017, di Ambon, Maluku, Kamis (9/2) pagi. (Foto: Humas/Agung)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjawab dengan canda pernyataan Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono, yang mengaku dipanggil pemilik media “No”, dan hanya bicara selama 5 menit lalu dirangkul dan diajak keluar.

“Saya tidak mungkin seperti pemilik media, misalnya memanggil Ketua PWI “No” enggak mungkin. Enggak mungkin berani, yang berani melakukan itu hanya pemilik media,” kata Presiden Jokowi yang disambut tawa peserta acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2017, di Ambon, Maluku, Kamis (9/2) pagi.

Kalo memangil Ketua PWI “No”, lanjut Presiden, itu bisa habis dirinya. “Jadi saya selalu memanggil Bapak Ketua PWI Margiono yang terhormat,” tutur Presiden.

Presiden juga menegaskan, kalau datang ke Istana juga sama, tidak mungkin dirinya seperti Surya Paloh (pemilik Media Indonesia Group), baru berbicara 5 menit lalu dirangkul jalan keluar.

“Kalau waktunya 5 menit, kalau PWI di Istana, 2 jam, enggak berani ngusir, saya. Saya pastikan itu, karena kita tahu betapa sangat pentingnya pers bagi pembangunan,” ucap Presiden Jokowi.

Jadi Evaluasi

Sebelumnya Ketua Umum PWI Margiono dalam sambutannya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Presiden dan Ibu Negara yang hadir dalam puncak HPN di Ambon.

“Senang kalau punya acara dihadiri Presiden, tidak ada acara yang tidak senang, yang paling top kalau acara itu dihadiri oleh Presiden. Yang lain tidak penting, tenda panas, kekurangan-kekurangan tidak penting,” kata Margiono seraya menyampaikan kesenangan keluarga besar wartawan Indonesia karena HPN di Ambon, Gubernur, Wakil Gubernur, Ketua DPRD, Pangdam, dan Kapolda juga baik.

Menurut Ketua Umum PWI itu, HPN jadi evaluasi dan koreksi bagi insan pers. “Silakan Presiden mengoreksi, termasuk dimarahi. Itu tanda sayang,” ungkap Margiono.

Dari masyarakat sendiri, lanjut Margiono, ada koreksi bagi pers nasional, yaitu menyangkut independensi, kode etik, dan banyak pimpinan pers jadi pimpinan partai politik.

“Itu tugas Dewan Pers. Kalau PWI suruh mengingatkan para pemilik, seperti Chairul Tanjung, Surya Paloh, Harry Tanoe enggak bisa,” ungkap Margiono.

Ketua Umum PWI itu lantas mengisahkan pertemuannya dengan Surya Paloh, pemilik Media Indonesia Group yang selalu memanggilnya “No”, dan bicara cukup 5 menit lalu merangkulnya berjalan keluar pintu.

Puncak Peringatan HPN 2017 itu dihadiri oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Perhubungan Budi K. Sumadi, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. (AS/AGG/ES)

Lihat juga:
Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional 2017 (9/2)

 

Berita Terbaru