web analytics

Kategori : Artikel

Artikel


  • 5 January 2015
  • 541509 Views

Catatan Tentang Inflasi 2014

Seorang pedagang beras menjaga tokonya,  di Pasar Senen, Jakarta, Rabu  (22/7).Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2 Januari 2015 melaporkan, bahwa selama Desember 2014 terjadi inflasi sebesar 2,46 persen, lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya (1,5 persen). Dengan demikian, inflasi tahun kalender (Januari-Desember 2014) mencapai 8,36 persen.

Nilai inflasi bulan Desember itu meleset dari target yang telah ditetapkan dalam APBN-P 2014 sebesar 5,3 persen. Besarnya nilai inflasi tersebut disebabkan oleh peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada seluruh kelompok pengeluaran, dengan penyumbang terbesar berasal dari kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,06 persen.

  • 31 December 2014
  • 133968 Views

Peluang dan Tantangan Ekonomi 2015

Oleh: Eddy Cahyono Sugiarto, Staf Pada Sekretariat Kabinet

eddy_cahyono_sugiartoJelang tahun 2015  konstelasi ekonomi  global masih penuh dengan ketidakpastian,  resiko pelemahan ekonomi global diprediksi akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara.

Gejala awal resiko pelemahan ekonomi global sejatinya dapat dicermati dari lambannya pemulihan ekonomi global, diindikasikan dengan laju pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara maju yang masih rendah dan rentan, yang berpotensi “menekan” laju  pertumbuhan ekonomi negara-negara lainnya.

  • 30 December 2014
  • 128238 Views

‘Cash Flow Shortage’ dan Drama Harga BBM

Oleh: Pringadi Abdi Surya*)

SPBUPada tahun 1972, Club of Rome menerbitkan Limits to Growth yang tesis dasarnya menyatakan bahwa jika borosnya pola konsumsi dunia dan cepatnya pertambahan penduduk sama seperti semula, dalam waktu seabad bumi tidak akan sanggup lagi memenuhi kebutuhan manusia.

Dalam konteks bahan bakar minyak, sejak tahun 1993, produksi minyak bumi Indonesia mengalami kemerosotan. Di sisi lain, pertumbuhan kendaraan terus meningkat. Ada sekitar 1500 motor dan 300 mobil baru yang manambah kepadatan jalan raya setiap harinya. Dari jumlah tersebut, perbandingan antara kendaraan angkutan penumpang dengan angkutan barang berkisar 70:30. Clean Air Asia, sebuah organisasi lingkungan hidup dibawah ADB, Bank Dunia dan USAID, juga memperkirakan bahwa pada tahun 2015 terdapat 540 kendaraan per 1000 penduduk, atau dengan kata lain tiap 2 orang penduduk memiliki 1 kendaraan.

  • 21 December 2014
  • 129614 Views

Kerjasama dan Sama-Sama Kerja

Gadis NTT“Senang sekali bisa melihat Pak Jokowi secara langsung.” demikian disampaikan Yulia(15 thn) salah satu peserta Marching Band yang ikut meramaikan kehadiran Presiden dan Ibu Negara dalam rangka HUT ke 56 Propinsi NTT, Sabtu (20/12).

“Latihan kita secara marathon selama 1 minggu ini terbayar sudah.” sambung Bella, yang bersama-sama dengan Yulia tergabung dalam Marching Band Kwarda Pramuka NTT.

  • 15 December 2014
  • 130226 Views

Longsor Penyebab Korban Tewas Terbanyak Sepanjang 2014

Sutopo PurwoOleh: Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Longsor di Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara harusnya makin menyadarkan kita untuk lebih menaruh perhatian lebih serius terhadap ancaman longsor. Data sementara kejadian bencana di Indonesia tahun 2014 ada 248 jiwa orang tewas akibat longsor. Jumlah ini hampir dua per tiga dari korban tewas akibat bencana di Indonesia selama 2014.

Bencana tanah longsor selalu berulang setiap tahun. Di Indonesia ada sekitar 40,9 juta jiwa penduduk yang terpapar bahaya longsor sedang hingga tinggi. Masyarakat terpapar adalah masyarakat beserta perumahan, sistem atau elemen lain yang berada pada zona bahaya dan berujung pada potensi kerugian.  Bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya degradasi lingkungan, dan curah hujan yang makin ekstrem menyebabkan risiko longsor makin tinggi.

  • 11 December 2014
  • 131021 Views

Lelang Jabatan, PR Presiden dan Kinerja Pajak

Oleh:  Joko Tri Haryanto, pegawai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI*)

Ktr PajakDalam siaran persnya, Menteri Keuangan (Menkeu) menyatakan untuk dapat mengejar target penerimaan pajak di tahun 2015 sebesar Rp1.380 triliun. Hal ini disampaikan setelah berkoordinasi dengan aparat pajak dan bea cukai. Namun demikian, Menkeu juga menekankan pentingnya kepastian hukum bagi aparat dalam menjalankan tugas sehari-harinya sehingga koordinasi dengan pihak kepolisian dan kejaksaan dapat lebih dioptimalkan. Tanpa itu semua, sekeras apapun aparat pajak dan bea cukai bekerja, niscaya tidak akan ada hasilnya. Dalam APBN 2015 sendiri, pemerintah dan DPR sepakat mematok target penerimaan perpajakan sebesar Rp1.201,7 triliun atau naik dibandingkan APBN-P 2014 sebesar Rp1.072,4 triliun.

Sebelumnya dalam rapat kabinet terbatas, Presiden mempertanyakan rendahnya realisasi penerimaan pajak dalam kurun 10 tahun terakhir. Di tahun 2009 misalnya, dari target Rp591 triliun pemerintah kemudian merevisi menjadi Rp528 triliun dengan realisasi Rp494 triliun, sehingga shortfall sekitar Rp34 triliun. Sementara di tahun 2011, dari target Rp709 triliun harus disesuaikan menjadi Rp698 triliun, dengan realisasi Rp667 triliun dan shortfall nya Rp31 triliun. Sementara di 2012, target pajak Rp853 triliun, direvisi menjadi Rp817 triliun dengan realisasi Rp753 triliun, shortfall meningkat hingga sebesar Rp65 triliun.

  • 5 December 2014
  • 130527 Views

Tarakan, Zona Rawan Gempabumi di Kaltim

Oleh: Dr. Daryono, S.Si, M.Si, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

TarakanUntuk kesekian kalinya, Kota Tarakan Kalimantan Timur (Kaltim) kembali diguncang gempabumi tektonik pada 9 November 2014 dini hari. Peristiwa gempabumi yang terjadi cukup unik, mengingat kejadiannya yang berlangsung berurutan hingga warga masyarakat Tarakan yang sempat terbangun dari tidur, kemudian lari berhamburan keluar rumah. Sebagian besar dari mereka takut akan datangnya gempabumi yang lebih besar, serta kekhawatiran akan terjadi tsunami mengingat wilayahnya yang berdekatan dengan laut.

Beberapa laporan warga menunjukkan bahwa getaran gempabumi dirasakan terjadi hingga beberapa kali, akan tetapi karena magnitudo gempabum yang relatif kecil maka hanya 3 gempabumi yang dapat ditentukan parameternya di Pusat Gempabumi Nasional, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Setidaknya ada tiga guncangan kuat yang terjadi. Guncangan pertama pada pukul 02.00.18 WIB, disusul guncangan kedua pukul 02.01.54 WIB, dan terakhir adalah guncangan paling kuat pada pukul 03.07.04 WIB. Ketiga gempabumi ini memiliki magnitudo bervariasi, yaitu M 4,3 Skala Richter (SR), M 4,1 SR, dan M 4,5 SR. Di Pulau Tarakan, Pulau Bunyu, dan Pulau Baru gempabumi dirasakan pada skala intensitas II-III Modified Mercally Intensity (MMI). Namun demikian, hingga saat ini belum ada laporan korban luka maupun kerusakan akibat gempabumi.

  • 29 November 2014
  • 155921 Views

Pembangunan Kesehatan Berbasis Perdesaan

Oleh: Oktavio Nugrayasa, Staf Sekretariat Kabinet

Okta(1)Indonesia sebagai sebuah negara yang besar tentunya memiliki konsekuensi yang besar pula dalam berbagai masalahnya. Mulai dari masalah ekonomi, sosial-politik, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Khusus mengenai masalah kesehatan, sampai saat ini status dan derajat kesehatan masyarakat yang diukur berdasarkan indikator dari Angka Kematian Ibu (AKI), Gizi Buruk serta Angka Harapan Hidup (AHH) di seluruh Indonesia terutama pada desa dan pemukiman transmigrasi secara umum masih sangat rendah. Terlebih lagi di daerah perbatasan dan kepulauan yang sarana kesehatannya masih tergolong sangat minim.

  • 25 November 2014
  • 132809 Views

Membangkitkan Kejayaan Ekonomi Kelautan Indonesia

Kapal LautOleh: Eddy Cahyono, Staf Sekretariat Kabinet

Kejayaan ekonomi kelautan Indonesia secara historis telah diakui dunia pada  era keemasannya sebagai negara maritim, yang sangat berpengaruh signifikan terhadap konstelasi perkembangan ekonomi dunia. Tercatat Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, dan sejumlah Kesultanan Islam di berbagai belahan nusantara, pernah menjadi negara maritim yang disegani melalui aktivitas ekonomi pelayaran dan perdagangan internasional, dengan wilayah kekuasaan membentang mulai dari Campa (India),  Siam (Thailand), hingga sebagian Tiongkok.

Kejayaan kerajaan maritim tersebut ditandai dengan pengembangan jaringan perdagangan dan pelayaran ke berbagai negara, sebagai indikasi berkembangnya semangat dan visi  kemaritiman, untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran ekonomi.

  • 20 November 2014
  • 127541 Views

Harapan Baru Iklim Investasi di Indonesia

Oleh: Novita, Bidang HI, Asdep Politik dan Hubungan Internasional Setkab

CEO APECSeperti yang kita ketahui, iklim investasi di Indonesia akhir-akhir ini mengalami penurunan akibat gejolak politik yang terjadi di Indonesia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat mengalami penurunan seiring dengan kekhawatiran para investor bahwa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla tidak akan mendapatkan dukungan dari parlemen karena dikuasainya DPR oleh Koalisi Merah Putih. Namun, secercah harapan muncul seiring dengan kebijakan Presiden terpilih Joko Widodo yang mengundang investor asing ke Indonesia. Hal ini diungkapkan Presiden Jokowi pada pidato perdananya di hadapan para CEO dunia pada forum KTT APEC yang berlangsung di Beijing pada tanggal 10 November 2014.

Di awal pidato, Presiden Jokowi memberikan gambaran tentang Indonesia yang memiliki 17.000 pulau dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa, namun konektivitas antarpulau belum terbangun dengan baik sehingga ada kesenjangan harga komoditas barang antara pulau yang satu dengan yang lain. Ia mencontohkan harga semen di Papua 25 kali lipat dibandingkan dengan harga semen di Pulau Jawa. Oleh sebab itu, sektor yang dipromosikan adalah kemaritiman dengan membangun tol laut untuk menekan biaya transportasi.