Sarang Berdzikir Untuk Indonesia Maju, 1 Februari 2019, di Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 1 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.034 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati Yang Mulia para Ulama, para Habaib, para Kiai, wabilkhusus Mbah Kiai Maimoen Zubair dan Ibu Hj. Eni Maryam,
Yang saya hormati Bapak Gubernur Jawa Tengah beserta Ibu, Bapak Bupati Rembang,
Serta para Menteri Kabinet Kerja yang hadir,
Serta hadirin-hadirat peserta Sarang Berdzikir Untuk Indonesia Maju yang saya hormati dan yang saya banggakan.

Sore hari ini alhamdulillah saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena bisa hadir di Rembang, di pondok pesantren di Sarang pimpinan Mbah Maimoen Zubair, Mbah Kiai. Ini kehadiran saya untuk yang ke satu ditambah satu.

Mbah Kiai, Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya bahwa bangsa kita ini adalah bangsa besar. Tantangan-tantangan yang dihadapi juga tantangan-tantangan besar, karena memang negara kita ini adalah negara besar. Penduduk kita sekarang sudah 260 juta, 260 juta. Yang hidup di Pulau Jawa kurang lebih 149 juta, sisanya hidup di 17.000 pulau yang kita miliki. Kita juga dianugerahi oleh Allah berbeda-beda, beraneka ragam, warna-warni, majemuk, bermacam-macam. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda bahasa daerah.

Saya hanya ingin mengingatkan kepada kita semuanya, marilah terus kita jaga persatuan kita, terus kita jaga, kita pelihara persaudaraan kita, ukhuwah kita, terus kita rawat, kita jaga kerukunan kita. Persaudaraan, ukhuwah, ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniyah di dalam bangsa yang besar seperti Indonesia ini sangat-sangat penting sekali.

Jangan sampai karena hal-hal kecil, karena perbedaan pilihan, baik dalam pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, maupun pilihan presiden, kita ini seperti tidak sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Sering kita lupa ini. Padahal yang namanya pemilu, baik pilkada, pileg, pilpres itu setiap lima tahun selalu ada, selalu ada. Jadi kalau saya sering menyampaikan, kalau ada pilihan bupati pilihannya ada 1/2/3/4 ya dilihat saja, gampang, dilihat prestasinya apa, pengalamannya apa, sudah pengalaman atau belum dalam mengelola pemerintah, programnya apa dilihat, gagasan-gagasan besarnya apa untuk daerahnya, ide-idenya apa untuk daerahnya. Sudah, setelah itu bismillah, pilih. Enggak usah pakai ramai-ramai, pakai fitnah-fitnah, pakai saling mencela, pakai saling mengejek, pakai saling nyinyir, pakai saling menghina. Itu bukan nilai-nilai agama yang kita anut, itu bukan nilai-nilai islami, itu bukan nilai-nilai ke-Indonesia-an kita. Kita memiliki etika, kita memiliki tata krama, kita memiliki sopan santun, kita memiliki budi pekerti.

Jadi sekali lagi, saya titip dalam kesempatan yang baik ini, marilah kita hindari, terutama ini di media sosial yang begitu sangat ramai sekali  terutama kalau masuk ke bulan-bulan politik seperti sekarang ini. Coba dilihat di dalam media sosial begitu banyaknya fitnah, begitu banyaknya saling mencela, begitu banyaknya saling menghina, begitu banyaknya ujaran kebencian, begitu banyaknya ujaran kedengkian. Kebencian, kedengkian, apalagi ya? Kenyinyiran, ujaran kenyinyiran. Apalagi?

Inilah yang, sekali lagi, ini bukan etika berpolitik, itu bukan adab berpolitik yang baik, itu tidak ada dalam nilai-nilai sopan santun kita berpolitik. Berpolitik itu adalah tata kramanya. Kita semuanya sedih kalau melihat media sosial sekarang ini, isinya hanya hal-hal yang tadi saya sampaikan. Apakah ini mau kita terus-teruskan? Pertanyaan saya coba dijawab, apakah ini akan kita terus-teruskan? Mboten nggih? Mboten nggih? Saestu. Nggih?

Sekali lagi, itu bukan etika Indonesia, bukan tata krama Indonesia, bukan nilai-nilai Islam, bukan nilai-nilai yang beradab.

Saya sudah empat tahun ini, entah direndahkan, entah dimaki, entah dihina, entah difitnah, saya diam saja. Sabar, sabar ya Allah, sabar, saya hanya begitu saja. Tetapi kadang-kadang kan ya perlu jawab. Ya kan? Kan perlu menjawab. Masa empat tahun dibilang PKI saya diam, ya saya jawab. Dibilang antiulama masa saya diam, ya saya jawab sekarang. Dibilang kriminalisasi ulama masa saya diam, ya saya jawab sekarang.

Mengenai PKI. PKI itu dibubarkan tahun ’65/’66, lahir saya tahun ’61, berarti umur saya masih empat tahun, masih balita. Enggak ada PKI balita.

Yang kedua, mengenai antiulama. Saya tiap hari, tiap minggu itu masuk pondok pesantren, dengan ulama. Terus yang tanda tangan Perpres Hari Santri tanggal 22 Oktober itu siapa? Masak antiulama tanda tangan Hari Santri. Logikanya itu memang harus kita pakai. Kalau Cak Lontong bilang, “mikiiir… mikiiir… mikiir.” Kalau Cak Lontong. Iya kan? Logikanya logika gampang-gampang saja saya menjawab. Saya menjawab juga enteng-enteng saja, meskipun empat tahun saya diam terus. Kalau sekarang saya jawab. Bukan marah lho ini, jawab, jawab.

Kemudian kriminalisasi ulama. Ulama mana yang dikriminalisasi? Kalau kriminalisasi itu, tidak ada kasus hukum, tidak mempunyai kasus hukum, kemudian dimasukkan ke sel. Itu namanya kriminalisasi. Kalau ada kasus hukumnya, ada masalah hukum, ada yang melaporkan, aparat kemudian melakukan penyelidikan, penyidikan, kemudian dibawa ke lembaga yudikatif yang namanya pengadilan. Yang memutuskan di pengadilan, kalau memang dianggap tidak salah ya mesti bebas. Nggih mboten?

Sudah, ini sampun Magrib. Saya kira kalau sudah Magrib saya akhiri sambutan saya.

Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru